” …Kalo kamu memang sayang ma aq, aku harap kamu keluar dari situ dan jadi islam yang seadanya, jangan kamu ikut-ikut, aku ga tahu apa yang namanya NU atau Muhammadiah, yang aku tahu kita sebagai muslim itu melaksanakan kewajiban dan menjalankan sunah-sunah Rasulullah dan hadist. itu saja jangan ditambah- tambah”
Subhanallah, masih ada orang-orang yang mempertanyakan keislamanku… aku hanya merasa nyaman mencintai-Nya seutuhnya, berusaha sekuat tenaga menjali perintah dan menjauhi larangannya. hanya itu… bahkan ketika pertama memasuki kampus UNY tercinta, tutorial PAI sudah memberikan slogan “Berislam kaffah, beriman istiqomah”. kita adalah bangsa Indonesia yang oleh Hasan Al-Banna dikatan bangsa hebat kedua setelah palestina.
‘Janganlah kamu menjadi orang yang tidak punyai sikap. Bila orang melakukan kebaikan maka aku pun melakukannya. Namun bila orang melakukan keburukan maka aku pun ikut melakukannya juga. Akan tetapi jadilah orang yang punya sikap dan keberanian. Jika orang melakukan kebaikan maka aku melakukannya. Namun jika orang melakukan keburukan maka aku tinggalkan sikap buruk mereka’. (HR. Tirmidzi)
“… Yang tinggal disana itu adalah islam radikal, yang tak mau bertoleransi dengan agama lain, yang ingin berkuasa sendiri, merasa benar sendiri, merasa paling kuat, kamu bukan di dukung tapi dijerumuskan kedalam neraka….”
astagfirullah, rasanya ingin menangis
mendengarnya. mengapa orang selau menilai secara sepihak tanpa mau melihat realita. jika kita mengaku orang islam ayolah kita mulai pelajari islam, mulailah menjadikan pancasila sebagai ideologi yang sebenarnya. bukankah dalam pancasila terdapat sila “Ketuhanan Yang Maha Esa”? bagaimana kamu ingin Tuhan mendekatimu jika kamu tidak mendekati Tuhanmu? mulailah belajar untuk bertanya mengapa? apa acuan kita bekerja demikian?apa pegangan dan pendoman kita melakukan hal tersebut? ayolah…!
jika kita berjilbab dengan menutupi dada seperti yang disyariatkan merupakan sebuah bentuk keradikalan? (bukankah syariatnya demikian?) lalu kita harus bagaimana untuk menjadi orang ‘biasa-biasa saja’? telanjang? bahkan orang yang mengatakan telanjang itu seni saja keluar rumah masih berpakaian kok… subhanallah ketika kita mengatakan “Sholatlah, puasalah” jika kita mengatakan demikian kita dituduh menjerumuskan kedalam api neraka? subhanallah… begitu besar cobaan dalam dakwah ini.
“Berimanlah kepada Allah dan kemudian beristiqamahlah (terhadap yang kau imani tersebut)”. (HR. Bukhari)
Keberanian untuk tetap istiqamah walau nyawa taruhannya nampak pada diri orang-orang beriman di dalam surat Al-Buruuj: 4 – 8 yang dimasukkan ke dalam parit dan dibakar oleh as-habul ukhdud hanya karena mereka menyatakan keimanannya kepada Allah SWT. Begitu pula Asiah, istri Firaun dan Masyitah, pelayan Firaun, kedua-duanya harus menebus keimanan mereka kepada Allah dengan nyawa mereka. Asiah di tiang penyiksaannya dan Masyitah di kuali panas mendidih beserta seluruh keluarganya karena mereka berdua tak sudi mentuhankan Firaun. Demikian sulitnya untuk mempertahankan keistiqamahan di jalan Allah, dan demikian sulit pula untuk mewujudkan asy syaja’ah sebagai salah satu aspeknya.
“…kalo demo banyak yang terganggu, mereka telat kerja, terganggu aktivitasnya, dll. sedikit dong mengerti orang dan toleransi”
“ketika kalian demo, apa tidak merasakan waktu jalan-jalan kalian blokir, berjalan disepanjang jalan berteriak, berorasi, apa yang kalian dapatkan? kalian malah merugikan orang, jalan. kalian blokir, mereka memutar arah menghindari demo, apa kalian sadar waktu bertambah, biaya bertambah tenaga yang meraka keluarkan. apa kalian mau ganti semua itu? apa kalian mau membantu mereka? demo boleh saja tapi di lapangan sepak bola, berteriak sesuka kalian, lari-lari, loncat-loncat sesuka kalian toh ga ada yang ngurus”
subhanallah, entah saya tidak tahu siapa yang menjadi koordlap (koordinator lapangan) dan koordum (koordinataor umum) juga pihak-pihak kepolisian yang terlibat, bahwa setiap kita turun ke jalan selalu pada saat rami kendaraan namun penuh dengan perhitungan (dan juga konsolidasi dengan pihak kepolisian) sehingga walaupun terjadi kemacetan arus tetap terkendali. apa itu bukan bentuk toleransi?
‘Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya